Karakteristik Dan Klasifikasi Anak Dengan Hambatan Motorik / Tunadaksa
1). Karakteristik akademik
Pada umumnya tingkat kecerdasan Anak Dengan Hambatan Motorik yang mengalami kelainan pada sistem otot dan rangka adalah normal sehingga dapat mengikuti pelajaran sama dengan anak normal, sedangkan Anak Dengan Hambatan Motorik yang mengalami kelainan pada sistem cerebral,tingkat kecerdasannya berentang mulai dari tingkat idiocy sampai dengan giftted. Hardman mengemukakan bahwa 45% anak cerebral palsy mengalami keterbelakangan mental (tunadaksa), 35% mempunyai tingkat kecerdasan normal dan di atas normal. Sisanya berkecerdasan sedikit di bawah rata -rata. Selanjutnya, P.Seibel mengemukakan bahwa tidak di temukan hubungan secara langsung antara tingkat kelainan fisik dengan kecerdasan anak. Artinya, anak Cerebal Palsy yang kelainannya berat, tidak berarti kecerdasannya rendah, tergantung sumber atau letak kerusakannya.
Selain tingkat kecerdasannya yang bervariasai anak Cerebral Palsy juga mengalami kelaianan persepsi, kognisi, dan simbolisasi. Kelaianan persepsi terjadi karena saraf penghubung dan jaringan saraf ke otak mengalami kerusakan sehingga proses persepsi yang di mulai dari stimulus merangsang alat maka di teruskan ke otak oleh saraf sensoris, ke mudian ke otak (yang bert u ga s menerima dan menafsirkan, serta menganalisis) mengalami gangguan.
Kemampuan kognisi terbatas karena adanya kerusakan otak sehi ngga mengganggu fungsi kecerdasan, penglihatan, pendengaran, bicara, perabaan , dan bahasa, serta akhirnya anak tersebut tidak dapat mengadakan interaksi dengan lingkungannya yang terjadi terus menerus melalui persepsi dengan menggunakan media sensori (indera):ganggungan pada simbolisasi di sebabkan oleh adanya kesulitan dalam menerjemahkan apa yang di dengar dan di lihat. Kelainan yang kompleks ini akan mempengaruhi prestasi akademiknya.
2). Karakteristik sosial/emosional
Karakteristik sosial/emosional Anak Dengan Hambatan Motorik bermula dari konsep diri anak yang merasa dirinya cacat, tidak berguna, dan menjadi beban orang lain yang mengakibatkan mereka malas belajar, bermain dan perilaku salah satu lainnya. Kehadiran anak cacat yang tidak di terima oleh orang tua dan di singkirkan dari masyarakat akan merusak perkembangan pribadi anak. Kegiatan jasmani yang tidak dapat di lakukan oleh tuna daksa dapat mengakibatkan timbulanya problem emosi, seperti mudah tersinggung, mudah marah, rendah diri, kurang dapat bergaul, pemalu, menyendiri, dan frustasi. Problem emosi seperti itu, banyak di temukan pada Anak Dengan Hambatan Motorik dengan gangguan sistem cerebrall. Oleh sebab itu, tidak jarang dari mereka tidak memilik rasa percaya diri dan tidak dapat menyesu aikan diri dengan lingkungan sosial.
3). Karakteristik fisik / kesehatan
Karakteristik fisik/kesehatan Anak Dengan Hambatan Motorik biasanya selain mengalami cacat tubuh adalah kecenderungan mengalami gangguan lain, seperti sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, penglihatan, gangguan bicara , dan lain-lain. Kelainan tambahan itu banyak ditemukan pada Anak Dengan Hambatan Motorik sistem cerebral.
Gangguan bicara di sebabkan oleh kelainan motorik alat bicara (kaku atau lumpuh), seperti lidah, bibir, dan rahang, sehingga membantu mengganggu pembentukan artikulasi yang benar. Akibatnya, bicaranya tidak dapat di pahami orang lain dan di ucapkan dengan susah payah. Mereka juga mengalami aphasia sensoris, artinya ketidakmampuan bicara karena organ reseptor anak terganggu fungsinya, dan apashia motorik, yaitu mampu menangkap informasi dari lingkungan sekitarnya melalui indera pendengaran, tetapi tidak dapat mengemukakannya lagi secara lisan. Anak Cerebral Palsy mengalami kerusakan pada pyramidal tract dan extrapyramidal yang berfungsi mengatur sistem motorik. Tidak heran mereka mengalami kekakuan, gangguan keseimbangan, gerakan tidak dapat di kendalikan, dan susah berpindah tempat.
Dilihat dari aktifitas motorik, intensitas gangguannya di kelompokkan atas hiperaktif yang menunjukan tidak mau diam, gelisah; hipoaktif yang menunjukan sikap pendiam, gerakan lamban, dan kurang merespon rangsangan yang di berikan; dan tidak ada koordinasi, seperti waktu berjalan kaku, sulit melakukan kegiatan yang membutuhkan integrasi gerak yang lebih halus, seperti menulis, menggambar, dan menari.
Untuk mengetahui apakah faktor penyebab Anak Dengan Hambatan Motorik, Mari kita pelajari uraian materi tentang “Faktor Penyebab Anak Dengan Hambatan Motorik.”
Klasifikasi Anak Dengan Hambatan Motorik
Hambatan Motorik merupakan salah satu kelompok terkecil dari kelompo k An a k Berkebutuhan Khusus, dan jenis kelainannya beraneka garam. Dikatakan kecil karena presentasinya diperkirakan 0,06% dari populasi anak usia sekolah. Dengan jenis kelainan yang bermacam-macam, perlu ada sistem yang memudahkan untuk mengklasifikasikan Anak dengan Hambatan Motorik.
Jenis Hambatan Motorik sangat beragam dan kelainannya juga merentang dari yang ringan sampai yang berat. Mereka ada yang memiliki kelainan jelas, sangat jelas, dan tidak begitu kelihatan. Klasifikasi Anak Dengan Hambatan Motorik dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian besar, yaitu
1) kelainan pada sistem serebral (Cerebral System),
2) kelainan pada sistem otot dan rangka ( Musculus Skeletal System).
1). Kelainan pada Sistem Serebral ( Cerebral System Disorders)
Kerusakan pada sistem syaraf pusat mengakibatkan bentuk kelainan yang krusal, karena otak dan sumsum tulang belakang merupakan pusat komputer dari aktivitas hidup manusia. Di dalamnya terdapat pusat kesadaran, pusat ide , pusat kecerdasan, pusat motorik, pusat sensoris, dan lain sebagainya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Cerebral Palsy.
a). Pengertian Cerebral Palsy
Cerebral Palsy menurut asal katanya terdiri atas dua kata cerebral, cerebrum yang berarti otak, dan palsy yang berarti kekakuan. Menurut arti kata, Cerebral Palsy berarti “kekakuan” yang disebabkan oleh sebab -sebab yang terletak di dalam otak. Cerebral Palsy merupakan suatu cacat yang disebabkan oleh adanya gangguan yang terdapat di dalam otak, dan cactnya bersifat kekakuan pada anggota geraknya. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian, anak Cerebral Palsy sering pula dijumpai mengalami kelayuhan, gangguan gerak, gangguan koordinasi, getaran-getaran ritmis, dan gangguan sensoris.
Istilah Cerebral Palsy dimaksudkan untuk menerangkan adanya kelainan gerak , sikap ataupun bentuk tubuh, gangguan koordinasi, dan kadang -kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris, yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kecacatan pada masa perkembangan otak.
Menurut arti katanya Cerebral Palsy berasal dari perkataan cerebral dan palsy . Cerebral yang berarti otak dan palsy berarti kekakuan. Jadi menurut asal katanya cerebralpalsy berarti kekakuan yang disebabkan karena sebab -sebab yang terjadi di dalam otak (Soeharso, 1997, Yulianto 2006, Tri Budi Santosa, 2006). Cerebral Palsy merupakan keadaan yang komplek, tidak hanya terjadi gangguan gerak, tetapi juga terjadi gangguan pada pendengaran, penglihatan serta kecerdasan dan bicara. Oleh karena itu, anak dengan Celebral Palsy dianggap sebagai kelainan yang kompleks.
Penggunaan istilah Celebral Palsy sebenarnya sudah tidak sesuai lagi untuk menjelaskan berbagai keadaan yang dialami oleh penyandangnya, baik dari sebab-sebab kelainannya maupun gejala -gejala yang ditimbulkannya. Dari penyebabnya, ia mengalami kerusakan tidak hanya terletak diotak besar , tetapi juga diotak kecil (bukan hanya di cerebrum, tetapi juga di cerebellum) seperti yang terdapat pada anak jenis ataksia, demikian juga gejala yang ditimbulkanya, tidak hanya dalam bentuk kekakuan-kekakuan organ gerak saja, melainkan juga dapat dalam bentuk kelumpuhan atau kelayuhan.
Dari sisi istilah, yang dimaksud cerebral palsy adalah mereka yang mengalami kelainan fungsi dan bentuk anggota gerak tubuh yang disebabkan oleh kerusakan otak. Tidak semua bagian di otak mengalami kerusakan, tetapi hanya bagian otak yang mengontrol gerakan. Kerusakan nya bersifat menetap dan tidak dapat diperbaiki. Penyandang cacat jenis Cerebral Palsy termasuk kelompok kelainan yang tidak ganas (nonprogressive) akibat malfungsi pusat motor dan saluran-saluran otak yang ditandai adanya gangguan distribusi postural tonus, baik yang berupa tonus kurang (di bawah normal), tonus berlebihan ( diatas normal) dan tonus postural mengalami fluktuasi. Akibat ketidak normalan tonus postural tersebut, penderitanya akan mengalami gangguan gerak sehingga aktivitas terbatas serta timbul kecacatan sekunder yang pada akhirnya akan menghambat tumbuh kembang anak secara keseluruhan (Yulianto , 2006).
Cerebral Palsy (CP) dikenal sejak tahun 1957 oleh Dr. Wintrop Phelp. Ia mengatakan bahwa CP merupakan suatu kelainan pada gerak tubuh yang ada hubungannya dengan kerusakan otak yang menetap. Akibatnya otak tidak dapat berkembang, tetapi bukan suatu penyakit yang progresif. Dari segi patologis kelainan terjadi tergantung dari berat ringannya gangguan atau kerusakan yang terjadi pada otak. Kelainan tersebut sangat komplek, dapat setempat atau menyeluruh, tempat mana yang terkena. Umumnya mengenai dae rah korteks motorik, traktus piramidalis, ganglia basalis, batok otak dan cerebelum (McKinslay).
b). Etiologi Celebral Palsy
Celebral palsy sebenarnya bukanlah suatu perkara baru di bidang kedokteran, khususnya bidang rehabilitasi. Dalam pengelolaannya diperlukan kelompok ahli yang multidisipliner yang bekerja sebagai sebuah tim terdiri dari dokter, para medis, orthopaedagoog, psikolog, dan lain -lain. Di banyak negara Celebral Palsy adalah penyebab cacat fisik yang paling sering. Di negara-negara b e rk e mb a ng Cerebral Palsy menjadi penyebab cacat fisik kedua setelah polio. Kira - kira satu dari 300 bayi dilahirkan dengan atau terkena Cerebral Palsy (David Werner, 2000).
c). Klasifikasi dan gejala Cerebral Palsy
Gejala Cerebral Palsy berbeda-beda pada setiap anak. kelaian celebralpalsy dapat diklasifikasi atas dasar kelainan fisiknya menjadi penyandang spastik (spasticity), athetosis, rigid, ataxia dan tremor. (Hallahan , 1998, Thoha Muslim,1996, David Werner 2002).
(1). Spastik
Anak yang spastik mengalami kekakuan otot atau ketegangan otot. Ini menyebabkan bagian tubuhnya menjadi kaku. Gerak -gerakan menjadi canggung. Kelakuan semakin bertambah bila anak marah atau cemas atau ketika tubuhnya berada pada posisi tertentu. Pola kekakuan sangat berbeda -beda pada masing - masing anak.
Secara umum karakteristik CP jenis spastik adalah:
• Kontraksi otot di luar kehendak ketika anggota gerak direntangkan secara tiba-tiba
• Sulit melakukan gerakan
• Anggota tubuh bawah dapat berbentuk gunting karena kontraksi otot
• Fleksi (gerakan membuka) pada lengan jari-jari
Gejala lain dari anak CP jenis spastik antara lain:
• Kepala terputar ke satu sisi
• Bahu dan kepala menekan kebelakang
• Kepalan menggenggam kepalan ibu jari
• Lutut rapat dan tungkai kaku
• Lengan mungkin kaku dan lurus menyilang
• Ketika berusaha mendirikan anak, tungkainya kaku ataun menyilang seperti gunting
• Saat belajar berjalan posisi anak kaku, canggung dengan lutut tertarik rapat dan tertekuk.
(2). Athetoid
Athetosis merupakan salah satu jenis CP dengan ciri -ciri menonjol gerak- gerakannya tidak terkontrol. Gerakan yang tidak terkontrol itu terdapat pada kaki, lengan, tangan atau otot-otot wajah yang lambat, bergeliat-geliut atau tiba-tiba dan cepat. Lengan dan tungkai mungkin terlihat bergerak tanpa sebab. Bila ia sengaja bergerak bagian-bagian tertentu bergerak terlalu cepat dan terlalu ja u h. Keseimbangan jelek dan sering terjatuh.
Celebral Palsy jenis athetoid ini sebenarnya tidak terdapat kekejangan atau kekakuan, otot-otot dapat digerakan dengan mudah, akan tetapi gerakan - gerakan tersebut tidak dapat dicegah oleh anak, karena setiap saat dapat muncul. Misalnya anak akan mengalami kesulitan karena tangan dan jari -jarinya selalu bergerak sendiri.
Pergerakan-pergerakannya yang bersifat otomatis dan dapat dicegah tersebut pada umumnya akan berkurang jika anak berada dalam keadaan tenang dan sedang tidur. Dengan demikian penyandang athetoid memiliki ciri -ciri sebagai berikut:
• Gerakan anggota tubuh tidak menentu dan diluar kehendak
• gerak di luar kehendak lebih nyata karena stress atau ketegangan emosional,
• Adanya gerakan yang tiba-tiba, dan
• Bila berjalan terhuyung-huyung Jumlah anak jenis athetoid ini relatif sedikit kelainannya mungkin pada daerah nganglia basal dan traktus piramidalis .
(3). ataxia
Celebral Palsy jenis ataxia ditandai dengan adanya gerakan-gerakan tidak terkoprdinasi dan kehilangan keseimbangan. Jadi keseimbangannya buruk, ia mengalami kesulitan untuk memulai duduk dan berdiri. Anak ini kalau jalan kadang-kadang jatuh seperti orang mabuk, sempoyongan, dan terhuy ung- huyung.
Salah perhitungan sering dialami oleh anak Cerebral Palsy, misalnya jika mengambil barang kadang-kadang tangannya terlalu jauh sehingga melewati barang yang diambil. Dengan demikian anak cerebral palsy jenis ini akan selalu mengalami kesulitan dalam menentukan ukuran sehingga salah menduga jarak sesuatu.
Dengan demikian gejala-gejala umum anak CP jenis ataxia antara lain:
• Adanya gangguan keseimbangan dan orientasi ruang
• Apabila berjalan mereka terhuyung-huyung, dan
• Gerakannya tidak terkoordinasi Kelainannya, kemungkinan terjadi di otak kecil.
(4). Rigid
Anak Celebral Palsy jenis rigid ditandai dengan adanya otot yang sangat kaku , demikian juga gerakannya. Otot tegang di seluruh tubuh, cenderung menyerupa i robot waktu berjalan, tertahan-tahan dan kaku. Otot-otot yang kaku ini seolah- olah bukan merupakan daging, tetapi sebagai benda yang tidak ada gemuknya , kalau digerakkanya selalu ada remnya, sehingga gerakanya tidak lemah, tidak dapat halus, dan tidak bergerak cepat. Kelainanya kemungkinannya terdapat di beberapa tempat di otak/menyebar.
(5). tremor
Anak Cerebral Palsy jenis tremor ditandai dengan adanya gerakan -gerakan kecil tanpa disadari, dengan irama tetap, lebih mirip dengan getaran. Getaran ini sukar dikendalikan oleh anak, sehingga menimbulkan kesulitan dalam melakukan kegiatan. Hal ini disebabkan karena kontraksi otot -otot yang terus menerus secara bergantian.
Getaran-getaran bisa juga terdapat pada mata, sehingga penglihatan anak terganggu. Selaian itu getaran dapat mengenai mulut (stut teing), dahi, kepala, jari tangan. Kelainannya kemungkin pada gangglia basal.
(6). Jenis campuran (mixed type)
Yang dimaksudkan anak Cerebral Palsy ini adalah anak yang memiliki bebera pa jenis kelainan misalnya jenis spastik dengan jenis athetoid, jenis athetoid dengan temor dan sebagainya.
Klasifikasi anak Celebral Palsy menurut jumlah anggota badan mengalami kelainan atau berdasarkan luas jaringan otak yang mengalami kerusakan, dapat dibedakan menjadi:
a) Monoplegia yaitu satu bagian anggota gerak yang tidak bisa digerakkan
b) Diplegia yaitu dua bagian anggota gerak yang tidak bisa digerakkan
c) Tripelgia yaitu tiga bagian anggota gerak yang tidak bisa digerakkan
d) Tertraplegia atau quadiplegia yaitu empat bagian anggota gerak yang tidak bisa digerakkan
Klasifikasi Cerebral Palsy menurut derajat kemampuan fungsional dibedakan menjadi 3, yaitu :
a). Golongan ringan
Cerebral Palsy yang termasuk ringan pada umumnya dapat hidup bersama anak- anak sehat lainnya, kelainan yang dialaminya tidak menganggu dalam kegiatan sehari-hari, maupun mengikuti pendidikan. Bantuan yang dibutuhkan hanya sedikit sekali bahkan kadang tidak perlu bantuan khusus.
b). Golongan sedang
Golongan Cerebral Palsy yang termasuk sedang sudah kelihatan adanya kemampuan fisik yang terbatas. Anak memerlukan bantuan dan pendidikan khusus agar dapat mengurus dirinya sendiri, dapat bergerak atau berbicara. Mungkin anak ini memerlukan alat bantu khusus seperti alat penguat kaki (brace), untuk memperbaiki pola geraknya.
c) Golongan berat
Celebral Palsy yang termasuk berat sudah menunjukan kelainan sedemikian rupa, sama sekali sulit melakakukan kegiatan dan tidak mungkin dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Bantuan atau pendidikan khusus yang diberikan sangat sedikit hasilnya. Pada umumnya anak-anak golongan ini akan tetap memerlukan perawatan walaupun bantuan khusus sudah diberikan. Oleh karena itu, sebaiknya anak-anak ini tampung dalam rumah perawatan khusus (nursing home).
Kelainan yang terjadi tergantung dari berat ringannya kerusakan yang t erjadi dalam otak. Kelainan tersebut sangat komplek, dapat setempat atau menyeluruh tergantung dari tempat yang terkena misalnya mengenai daerah korteks motorik , traktus piramidalis, ganggli basalis, batang otak, atau celebellum.
Gejala yang ditimbulkan sangat tergantung dari daerah-daerah di otak tersebut sebagai pusat-pusat yang berhubungan dengan pengaturan gerak tubuh. Gambaran klinis anak celebralpalsy tergantung dari bagian dan luas jaringan otak yang mengalami kerusakan. Gejalanya adalah sebagai beri kut:
• Kelumpuhan, yang dapat berbentuk ringan atau berat, berbentuk hemiplegia, quadriplegia, diplegia, monoplegia, triplegimonoplegia, triplegia. Kelumpuhan ini mungkin bersifat spastik, fleksid ataupun campuran.
• Gerakan involunter, yang dapat berbentuk atetoid, choreo atetoid , tremor dengan tonus yang bersifat spatis, fleksid, rigid atau campuran.
• Ataxia, yaitu gangguan koordinasi yang ditimbulkan oleh karena kerusakan cerebellum. Anak biasanya memperlihatkan tonus yang menurun, dan menunjukan perkembangan gerakan motorik yang terlambat. Mulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan serta tanggung.
• Kejang-kejang yang dapat bersifat umum atau lokal.
• Gangguan perkembangan mental. Biasanya pada anak cerebralpalsy yan g disertai terbelakang mental disebabkan oleh anoksia cerebri yang cukup lama, sehingga timbul atropi cerebri yang menyeluruh. Kira -kira separuh dari anak-anak cerebralpalsy termasuk retardasi mental.
• Gangguan komunikasi, artinya anak mungkin tidak memberi respons atau reaksi seperti anak lain. Ini sebagian mungkin karena kelunglaian, kekakuan atau tidak adanya gerakan atau kekauan alat -alat bicara.
• Mungkin juga ditemukan gangguan penglihatan, misalnya hemi anopsia ( gangguan lantang pandang ) strabismus atau kelainan refleksi bola mata,gangguan pendengaran, gangguan bicara, gangguan sensibilitas (rasa)
• Serangan epilepsi, kejang sering terjadi pada anak -anak Cerebral Palsy
• Adanya perilaku gelisah
• Adanya refleks-refleks yang abnormal Kelainan fungsi akibat Cerebral Palsy
Kelainan fungsi dapat terjadi akibat Cerebral Palsy sangat tergantung dari jenis Cerebral Palsy dan berat ringannya kelainan. Namun secara umum kelainan yang timbul sangat komplekes. Tidak saja masalah fungsi yang berhubungan dengan kemampuan fisik, akan juga mental psikologis. Ke adaan ini berbeda dengan yang dialami oleh anak poliomyelitis dan muskular distropi. Kelainan pada Cerebral Palsy cenderung lebih berat.
a) Kelainan fungsi mobilisasi
Kelainan fungsi mobilisasi dapat diakibatkan oleh adanya kelumpuhan anggota gerak tubuh, baik anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah. Kelumpuhan anggota gerak bawah mengakibatkan kemampuan anak untuk berguling, merangkak, duduk dan berjalan mengalami hambatan. Sementara kelumpuhan anggota gerak atas mengakibatkan kemampuan untuk meraih, menggenggam dan kemampuan lain yang berhubungan dengan fungsi tangan mengalami hambatan.
b) Kelainan fungsi komunikasi
Kelainan fungsi komunikasi daapat timbul karena adanya kelumpuhan pada otot - otot mulut dan kelainan pada alat-alat bicara. Kelainan tersebut mengakibatkan kemampuan anak untuk berkomunikasi secara lisan mengalami hambatan.
c) Kelainan fungsi mental
Kelainan fungsi mental dapat terjadi terutama pada anak cerebralpalsy dengan potensi kecerdasan rata-rata. Oleh karena adanya hambatan fisik yang berhubungan dengan fungsi gerak dan perlakuan yang keliru, mengakibatkan anak yang sebenarnya cerdas akan tampak tidak dapat menampilkan kemampuan secara maksimal.
Tugas-tugas yang diberikan kepada anak tidak dapat diselesaikan dengan benar, sehingga menimbulkan anggapan bahwa anak tidak mampu. Keadaan tersebut menghambat peningkatan potensi anak secara utuh. Fungsi mental anak terganggu akibatnya anak dianggap sebagai anak terbelakang mental.
Ketiga bentuk kelainan fungsi tadi dapat berpengaruh pada kemampuan- kemampuan lainnya, terutama kemampuan yang berhubungan dengan kegiatan merawat diri. Selain itu berpengaruh lainnya terhadap pendidikan dan penyesuaian diri anak dalam kehidupan sehari-hari.
Ada Celebral Palsy yang menderita komplikasi. Komplikasi o rtopedis pada anak Celebral Palsy terjadi karena kelumpuhan yang mengakibatkan tidak seimbangnya otot-otot sinergis dari atagonis yang berlangsung dalam waktu lama tanpa usaha menanganinya. Adapun komplikasi yang mungkin terjadi dapat berupa:
• Kontraktur, yaitu sendi tidak dapat digerakkan atau diteguk karena jaringa n ikat saluran sendi menjadi padat atau hilang sifat kekenyalannya dan otot memendek.
• Skoliosis, yaitu tulang belakang melengkung ke samping disebabkan karena adanya kelumpuhan hemiplegia.
• Dekubitus, yaitu adanya suatu luka yang menjadi borok akibat penakanan yang terus menerus karena harus berbaring secara terus menerus ditempat tidur. Komplikasi dekubitus ini sering terjadi anak CP mengalami kelumpuhan menyeluruh, sehingga ia harus selalu berbar ing di tempat tidur.
• Deformasitas (perubahan bentuk). Akibat yang ini dapat timbul jika sebelum nya terjadi kontraktus. Dengan adanya kontraktur maka struktur tubuh akan mengalami perubahan bentuk. Hal ini akan mengakibatkan anak CP semakin mengalami kesulitan dalam gerak.
• Gangguan mental. Anak CP tidak semua terganggu kecerdasannya, mereka ada yang memiliki kadar kecerdasan pada taraf rata -rata, bahkan ada yang berada di atas rata-rata. Komplikasi mental dapat terjadi apabila yang bersangkutan diperlakukan tidak wajar, anak tidak mengemb a n g ka n kemampuan secara optimal. Sehingga anak CP ini yang sebenarnya pandai dapat mengalami gangguan mental.
2). Kelainan pada sistem otot dan rangka (Musculus Skeletal System).
Yang dimaksud dengan sistem otot dan rangka adalah bagian-bagian atau jaringan-jaringan yang membentuk gugusan otot dan rangka sehingga terjadi koordinasi yang normal dan fungsional dalam menjalankan tugasnya. Penyebab terjadinya kelainan pada sistem otot dan rangka bervariasi, ada yang karena infeksi penyakit, bawaan, kelainan perkembangan, atau kecelakaan. Jenis - jenis kelainan sistem otot dan rangka antara lain meliputi : Poliomyelitis, muscle dystrophy, dan spina bifida.
a). Poliomyelitis
Poliomyelitis merupakan salah satu jenis kecacatan fisik y ang terjadi pada anak-anak. Di banyak Negara, penyakit poliomyelitis menjadi penyebab cacat fisik yang paling umum pada anak-anak. Di beberapa daerah bahkan paling sedikit satu dari setiap 100 anak menjadi lumpuh karena poliomyelitis.
Poliomyelitis adalah salah satu penyakit akut (mendadak) dan menular disebabkan oleh virus polio yang menyerang kornuanterior atau serabut syaraf penggerak ke sumsum tulang belakang. Akibat penyakit poliomyelitis sistem kerja persyarafan otak dan sumsum tulang belakang menjadi terganggu sehingga mengakibatkan kelumpuhan dan pengecilan otot anggota gerak tubuh.
Kelumpuhan yang terjadi sebenarnya dapat mengenai otot -otot di manapun, tetapi yang paling sering (umum) di tungkai. Otot -otot lain yang sering juga menjadi lumpuh adalah otot bahu, otot-otot di belakang lengan, otot-otot punggung (salah satu sisi tulang punggung), otot-otot ibu jari, dan lain-lain. Jenis kelumpuhannya berupa lunglai (lumpuh). Ada sebagian anak yang hanya mengalami sedikit lumpuh, sementara yang lain mengalami lumpuh berat. Kondisi ini lambat laun kadang orang tubuh yang terkena tidak dapat diluruskan sepenuhnya karena pemendekan atau kontraktur pada otot -otot tertentu.
Ada sebagian penyandang cacat tubuh yang memiliki kondisi di mana otot otot dan tulang yang terkena tampak lebih kurus/kecil daripada anggota tubuh yang lain. Di samping itu organ tubuh yang terkena umumnya tidak tumbuh sama cepetnya dengan organ tubuh yang lain, sehingga organ tubuh yang terkena menjadi lebih pendek .
Penyakit poliomyelitis menyerang sel syaraf (mieleum). Terutama sel-sel syaraf penggerak yang terdapat di bagian muka mieleum. Oleh karena itu kelainan yang timbul berkisar pada otot dengan bentuk kelumpuhan yang bersifat layuh (flaksid paralise). Poliomyelitis pada umumnya tidak menyebabkan gangguan kecerdasan, tidak ada gangguan alat -alat indera serta tidak ada pengaruh terhadap perabaan/daya rasa pada kulit. (David Werner,2002).
Dilihat dari sel-sel yang rusak, kelumpuhan anak polio dapat dibedakan menjadi:
• Tipe spinal, yaitu kelumpuhan pada otot-otot leher, sekat dada, tangan dan kaki;
• Tipe bulbaris, yaitu kelumpuhan fungsi motorik pada satu atau lebih syaraf tepi dengan ditandai adanya gangguan pernapasan;
• Tipe bulbospinalis, yaitu gabungan antara tipe spinal dan tipe bulbaris.
• Tipe enchephalitis yang biasanya disertai dengan demam, kesadaran menurun, tremor dan kadang-kadang kejang.
Kelumpuhan pada polio sifatnya layu dan biasanya tidak menyebabkan gangguan kecerdasan atau alat-alat indera. Akibat penyakit poliomyelitis a d a la h otot menjadi kecil (atropi) karena kerusakan sel syaraf, adanya kekakuan sensi (kontraktur), pemendekan anggota gerak, tulang belakang melengkung kesalah satu sisi, seperti huruf S (Scoliosis), kelainan telapak kaki yang membengkok keluar atau ke dalam, dislokasi (sendi yang keluar dari dudukannya), lutut melenting ke belakang (genu recorvatium).
b). Muscle Dystrophy
Muscle Dystrophy menurut Ahmad Toha Muslim dan M. Sugiarmin, merupakan suatu penyakit yang menyebabkan terjadinya kemun duran dan kele ma h an o t o t lurik, tanpa diketahui sebabnya apakah kelainan saraf pusat atau saraf tepi. Penyakit inipun bukan infeksi dan diperkirakan ada hubungannya dengan keturunan. Dapat diartikan bahwa muscle dystrophy merupakan jenis penyakit otot yang mengakibatkan otot tidak dapat berkembang. Yang dimaksudkan dengan tidak berkembang bukan berarti ototnya mengecil, tetapi lebih bersifat pada fungsi otot-otot tersebut yang tidak berkembang karena mengalami kelumpuhan. Masalah yang berkaitan dengan pende rita muscle dystrophy, di samping hal-hal tersebut :(1) berhubungan dengan mobilisasi, (2) perkembangan psikofisik yang semakin turun, dan (3) kematian yang relatif muda.
Muscular Dystrophy menunjukkan suatu penyakit yang berlangsung lama dan sedikit demi sedikit memperlemah dan memperkurus otot -otot tubuh. Ada beberapa tipe muscular dystrophy, antara lain apa yang disebut dengan Duchene atau Progressive, yaitu bentuk muscular dystrophy yang menyerang lebih banyak pada anak laki-laki daripada anak-anak perempuan dan terutama pada anak- anak usia sekolah. Pada saat lahir tampaknya anak normal, akan tetapi proses
pelemahan otot terjadi pada usia 4-5 tahun. Kelambanan atau kekakuan dalam berjalan merupakan petanda awal tentang terjadinya muscular dystrophy . Anak berjalan dengan tidak semestinya, dengan perut menggembung ke depan dan punggung melekuk ke dalam. Biasanya anak menemui kesukaran un tuk berdiri dari posisi berbaring atau dari bermain di lantai, dan mereka mudah jatuh. Lambat laun anak kehilangan kemampu annya untuk berjalan, dan bagian terakhir yang diserang adalah otot-otot atau urat-urat kecil pada tangan dan jari - jari (Heward & Orlansky).
c). Spina Bifida
Spina bifida merupakan jenis kelainan pada tulang belakang (spinal cord ) yang ditandai dengan adanya terbukanya satu atau tiga ruas tulang belakang yang disebabkan oleh tidak tertutupnya kembali ruas tulang belakang selama proses perkembangan terjadi. Akibatnya fungsi jaringan syarat terganggu, dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, hydrocephalus, yaitu pembesaran pada kepala karena produksi cairan yang berlebihan (tunagrahita).
Penyebab terjadinya spina bifida belum diketahui secara pasti. Diperkirakan 0,1% penderita spina bifida disebabkan oleh adanya kelainan fisik. Ada tiga jenis spina bifida, yaitu spina bifida occulta, meningo cele, dan myelomeningocele.
Anak-anak yang menderita spina bifida biasanya berjalan dengan menggunak an alat penguat, tongkat ketiak, atau alat pembantu berjalan, dan juga dapat menggunakan kursi roda untuk jarak yang agak jauh. Sebagian besar anak memerlukan kantong (catheter) untuk menampung air seni mereka. Metode intermitent catheterization (sebentar-sebentar kencing melalui catheter) selalu diajarkan pada anak. Menurut Pieper (1983), teknik ini sangat efektif bagi anak laki-laki maupun perempuan, dan lebih baik karena dapat digunakan setiap 3 atau 4 jam serta tidak memerlukan tempat yang steril (Heward & Orlansky, 1988: p. 340).
Ada beberapa bentuk spina bifida, yaitu:
• Spina Bifida Occulta; tidak diakibatkan oleh ketidakmampuan neurologis apapun karena tidak ada tonjolan pada jaringan saraf tulang belakang.
• Meningocele; yaitu suatu bentuk spina bifida yang dikenal sebagai jenis tumor yang berbentuk kantong di suatu tempat sepanjang tulang belakang. Kantong ini berisikan cairan cerebrospinal, akan tetapi tidak mengandung jaringan saraf dan tidak ada tanda -tanda ketidakma mp u a n neurologis.
• Myelomeningocele (meningomyelocele); juga berbentuk kantong yang isinya berupa jaringan saraf tulang belakang atau bagiannya, dan kar e na adanya jaringan saraf itu maka ada kerusakan neurologis. Myelomeningocele terjadi pada 2 di antara 10.000 anak, da n sering kali disertai dengan kelumpuhan kaki, dubur, dan otot gelang usus besar karena rangsangan saraf tidak dapat melewati jaringan saraf yang rusak tadi. Spina bifida biasanya disertai dengan Hydrocephalus, yaitu suatu pembesaran kepala yang disebabkan tekanan yang terlalu kuat dari cairan cerebrospinal.
Sumber Utama : Dr. Irah Kasirah, M.Pd . 2019. Modul 5 PPG Progam Studi PLB, Pendidikan Anak Dengan Hambatan Motorik, Kemendikbud.
Bagikan Artikel
Komentar
Posting Komentar